Tolong! Dia Datang
Ke Duniaku
Oleh
: mutia nur Imani
Genre: horror
“Tidakkk… jangan ganggu sayaaaa!! “.
Mimpi itu terulang kembali, aku takut. Aku melihatnya lagi, seorang nenek
dengan mukanya yang hancur, saebelah matanya bolong, satu tangan dan kakinya
terpisah dari badannya. Sambil berdercit dan membawa potongan tangan dan
kakinya dia datang merangkap menuju kearahku. siapa dia ? kenapa harus aku yang
dipertemukan dengannya? kenapa dia selalu hadir setiap malam dalam mimpiku?
Tolong akuu…
Itulah yang memngganggu pikiranku akhir - akhir ini. Namaku Natia Putri,
entah kenapa aku mengalami mimpi menyeramkan yang sama setiap malam. Hingga
satu malam aku memilih untuk tidak tidur dan terjaga hingga pagi karna aku
takut melalui malamku dengan mimpi itu. Setiap malam, aku terbangun dengan
keringat disekujur tubuhku ditengah malam, hingga aku tidak berani untuk
melanjutkan tidurku. Awalnya aku berpikir ini hanya mimpi buruk pengganggu
tidur pada umumnya karna mungkin aku lupa berdo’a atau mungkin karna aku tidur
dalam keadaan tidak bersih. Tapi meskipun aku telah mencuci mukaku hingga aku
mandi sebelum tidur lalu berdo’a, mimpi itu tetap datang.
Selanjutnya aku menyibukan diri dengan kegiatan dan tugas kampusku berharap
aku lupa dengan semua kejadian itu. Aku kuliah di sebuah universitas islam
negri di daerah cibiru. Hari ini awan sangat tidak bersahabat, gelap seperti kehabisan
tenaga untuk bersinar, hingga senja datang. aku benar benar sibuk dengan kelas dan organisasiku sampai aku baru
menyadari hari sudah gelap dan aku masih di kantor student center (sekre jurusan) jurusanku dengan laptop
dan setumpuk tugas yang menemani.
Kantor sekre jurusanku memang nyaman ada jendela yang bisa melihat
langsung ke luar dan di depannya ada teras yang cukup dipakai untuk sekedar
kumpul – kumpul atau rapat. Yaampun, Aku
baru sedar ternyata teman temanku sudah pergi satu persatu meninggalkanku sejak
tadi. “ wah udah jam 22.30 ternyata “ gumamku. Dan aku segera bergegas
membereskan barang barangku dan berniat menyelesaikannya di kostanku.
Tiba – tiba lampu di gedung itu mati semua “AAAAAAAAAAAAAKK” aku
berteriak kaget dan juga takut karna yang aku tau aku adalah orang terakhir
yang ada di lantai gedung itu. Tanpa berfikir panjang aku segera menyalakan
flashlight di HPku dan memantulkannya kearah luar dan sontak aku kaget dengan sosok
yang aku lihat. seperti ada seorang
wanita yang duduk merangkul lututnya membelakangiku dengan baju lusuh di pojok
teras depan ruanganku. Aku takut, aku tidak berani memanggil nya, segera aku
sorotkan senterku kearah barang barangku dan segera mengkemasnya agar aku bisa
secepatnya beranjak dari tempat itu.
Malam itu benar benar hening
seperti tidak ada siapapun di gedung itu lalu aku menyadari seperti ada
seseorang yang mengawasiku lewat jendela dan ketika aku menyorotkan senterku ke
jendela “AAAAAAAAAAAAKKK” nafasku seperti akan berhenti, suaraku hilang,
tubuhku gemetar. Wanita yang aku lihat tadi menempel di jendela ruangan yang
aku tempati, wajahnya sangat menakutkan mata dan mulutnya penuh darah, penuh
belatung di pipi busuknya dan rambutnya berantakan sambil sekilas aku mendengar
dia berkata” maneh nu ngaganggu aing”. “aahhh
tolong… seseorang datanglah dan selamatkan aku” teriakku dalam hati
karna sudah tak bisa berkata, nafasku sesak, tolong… hingga akhirnya badanku
roboh sampai aku tidak sadarkan diri.
“nat, bangun nat !” aku
mendengar suara samar – samar ditelingaku sampai aku terbangun. Ternyata aku
pingsan dan saat terbangun aku melihat lima temanku liya, ica, tiara,tika dan
wiguna sudah ada di ruangan itu. Aku segera memeluk tiara dan menagis sejadi
jadinya. Teman temanku terheran heran dengan kejadian apa yang telah menimpaku?
Namun mereka membiarkanku tenang dan memberikanku segelas air agar aku dapat
bercerita.
Aku meminta mereka membawaku dulu dari tempat itu dan akhirnya kami
pergi ke tempat liya karna kostannya lah yang terdekat diantara kami. Aku
bertanya tentang kenapa mereka bisa ada disana ternyata tiara mencariku ke
kostan untuk meminjam buku referensi karna aku tidak bisa dihubungi. Dia
menyadari aku belum pulang dan akhirnya tiara meminta ica untuk menemani nya
mencariku ke gedung student center dan mereka mendapatiku sudah tergeletak di
atas lantai dan tidak sadarkan diri. Akhirnya tiara menelpon tiga temanku
lainnya. Lalu setelah mereka menceritakan kejadian yang mereka lihat kini
giliran aku yang mereka desak untuk bercerita.
Aku bingung bagaimana aku harus menjelaskan ? perlahan aku mencoba
menceritakan kejadian yang menimpaku tadi. Mereka kaget dengan apa yang aku
alami. Mereka memintaku untuk menginap saja di tempat liya karna waktu sudah
menunjukan pukul 23.30. akhirnya kami berlima menginap di kostan liya dan
wiguna pulang ke kostannya. Setelah kejadian itu aku tidak berani memejamkan
mata karna aku takut harus mengalami kejadian menyeramkan selanjutnya dalam mimpiku.
Lampu kamar sudah dimatikan,
teman-temanku sudah larut dalam mimpi indah mereka dan aku masih tidak berani
untuk tidur.
“suara apa itu “. gumamku dalam hati.
Aku
mendengar seperti ada yang mencakar pintu kamar kostan liya. “Ah, mungkin itu
kucing” Aku mencoba berfikir positif. Selanjutnya, aku mendengar dercitan
seorang nenek yang ada di dalam mimpiku. Perasanku kembali tidak tenang aku
mencoba memejamkan mata dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Namun
dercitan itu semakin keras dan sumbernya seperti berpindah menjadi di dalam
kamar mandi. Tuhan tolong aku … ada apa ini kenapa harus aku yang mengalaminya.
Lalu suara itu hilang sekarang. perlahan aku membuka selimut yang menutupi
seluruh wajahku “ AAAAAAAAAAAAAAAA ”.
aku melihatnya kini bukan dalam mimpi tapi di dunia nyata. seorang nenek dengan mukanya yang hancur, sabelah matanya bolong, satu tangan dan kakinya terpisah dari badannya datang keduniaku dia diam di pojok kamar liya dan menatapku sambil tertawa. aku berteriak sebisaku tapi nihil suaraku tidak keluar karna aku terlalu ketakutan. Nenek itu mulai merangkak seperti akan ke arahku. Apa yang harus aku lakukan? sekujur tubuhku kaku tidak bisa digerakan, aku ingin membangunkan teman teman – temanku.” Tuhan semoga ini mimpi aku ingin bangun dari mimpi ini” harapku dalam hati.
aku melihatnya kini bukan dalam mimpi tapi di dunia nyata. seorang nenek dengan mukanya yang hancur, sabelah matanya bolong, satu tangan dan kakinya terpisah dari badannya datang keduniaku dia diam di pojok kamar liya dan menatapku sambil tertawa. aku berteriak sebisaku tapi nihil suaraku tidak keluar karna aku terlalu ketakutan. Nenek itu mulai merangkak seperti akan ke arahku. Apa yang harus aku lakukan? sekujur tubuhku kaku tidak bisa digerakan, aku ingin membangunkan teman teman – temanku.” Tuhan semoga ini mimpi aku ingin bangun dari mimpi ini” harapku dalam hati.
Aku mencoba mengeluarkan suaraku dan terus berdzikir berharap nenek
itu hilang. Tapi, sosok nenek seram itu bukannya pergi dan menghilang dia malah
mengikuti ucapanku sambil menggeleng – gelengkan kepala dan matanya yang
membelalak dihadapanku. Sontak aku kaget dengan apa yang aku lihat. Aku
meneruskan dzikirku dengan menutup mata, nafasku sesak, aku menangis dan
berpasrah diri kepada tuhan karna saat itu hanya kepada-Nya lah aku berdo’a dan
mengharapkan pertolongan. Lalu aku memberanikan diri membuka mata dan syukurlah
dia sudah tidak ada.
Nafasku lega dan aku segera membangunkan temanku “ra... Tiara
bangun “. Aku membangunkan tiara sambil masih sedikit meneteskan air mata karena
masih merasa takut dengan hal yang menimpaku.
“Loh nat? kok nangis kenapa ?” tanya tiara memelukku.
“aku melihatnya ra.. dia... dia yang selalu datang kedalam mimpiku, aku takut ra”. aku mengadu dan menangis karena sudah tak bisa ku tahan lagi air mataku.
“Loh nat? kok nangis kenapa ?” tanya tiara memelukku.
“aku melihatnya ra.. dia... dia yang selalu datang kedalam mimpiku, aku takut ra”. aku mengadu dan menangis karena sudah tak bisa ku tahan lagi air mataku.
Aku menceritakan apa yang aku alami pada tiara malam itu, tentang
semua mimpi yang menggangu hidupku akhir akhir ini. Tiara memeluk ku mungkin
dia sedikit tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan. Teman - temanku yang
lain masih sedang tertidur pulas, aku tidak tega membangukan mereka jadi malam
itu hanya aku dan tiara yang terjaga. Dia menenangkanku. Waktu menunjukan pukul
02.00 pagi. Malam itu terasa begitu lama berlalu. Aku berharap matahari segera
terbit dan hari berganti siang.
Akhirnya aku dan tiara memilih untuk tidak kembali tidur. Kami
termenung dan saling diam. Tidak lama kemudian, Tiba – tiba tiara menatapku
tajam seperti tatapan kosong. “ra.. ka..kamu.. ke..napa? “tanyaku dengan rasa
takut .
“hihihihihi ulah sok cukat cokot nu lain hak maneh , aarrghh”. Itu bukan tira, suaranya berubah, ada apa dengan dia? Apa maksudnya jangan mengambil yang bukan hak ku? Apa yang aku ambil darinya? Aku beranjak membangunkan teman – temanku dengan keberanianku yang tersisa untuk membantu tiara sadar kembali. Aku dan tiga temanku mengikat tangan dan kaki tiara lalu kami membaca al-qur’an dan memutar do’a – do’a ruqiyah dari YouTube. Akhirnya tiara bangun dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Dia kembali sadar dan bertanya apa yang telah terjadi kepada kami.
Akhirnya suara ayam jantan berkokok
terdengar juga dan tidak lama kumandang adzan sudah terdengar dimana – mana.
Setelah kejadian itu kami berlima tidak berani untuk tidur kembali. Sebenarnya
aku masih memikirkan kata – kata yang keluar dari mulut tiara ketika dia sedang
kerasukan. Lalu aku mencoba menceritakan kepada teman- temanku lalu tiara mulai
mengeluarkan suaranya.
“mmmm
apa mungkin yang dia maksud ‘jangan mengambil yang bukan hak kamu’ adalah
cincin yang aku temukan ketika kita kemping ?”. jawabnya meyakinkan diri.
“Hah
cincin apa? jangan bilang cincin ini yah ra, yang kamu kasih ke aku !”. jawabku
kaget dan tegas untuk memastikan.
“
ketika minggu lalu kita camp berenam , aku iseng untuk jalan jalan sore sambil
main HP, sampailah aku di sebuah rumah kecil aku berniat masuk karena aku
mendengar suara banyak orang di dalam ketika sampai di depan pintu aku
menemukan cincin lucu sekali, aku pikir. Mmm dan cincin itu adalah cincin yang
kamu pakai nat….. “. Tiara menjelaskan sebelum selesai menceritakan aku
menyangkal ceritanya karena aku terkejut dengan penjelasnnya.
“Hah
kok kamu... … “. Jawabku ingin menyangkal ceritanya
“sstt
aku cerita dulu “. Tiara menjelaskan ceritanya “tadinya aku tidak berniat
mengambil cincin itu. Ketika aku sedang menggenggam dan melihat cincin itu tiba
– tiba seorang kakek tua datang menyuruhku pergi dari tempat itu. Dia melarang
aku untuk mendekati rumah itu. Akhirnya aku pergi dan tidak sadar cincin itu
masih digenggamanku, nat. mau tidak mau akhirnya aku bawa cincin itu sampai
kita pulang esok harinya. “. Pejelasan tiara
Minggu lalu, aku dan enam teman –
temanku tiara, ica, liya, tika, wiguna dan ditambah gandi mengadakan kemping
dua hari satu malam di sebuah tempat kemping yang indah dengan sekian cerita
mistis di daerah bandung – tarumajaya - kertasari. Semuanya berjalan lancar
sampai pada hari terakhir yang menurutku ada beberapa kejadian tidak wajar.
Dari mulai mendengar suara – suara aneh, bayangan hitam yang sepeti mengawasi
kita dan lain sebagainya. Mungkin semua mulai terjadi sejak tiara mengambil
cincin itu.
“terus
ra, kenapa kamu kasih cincin ini ke aku ?”.
tanyaku penasaran.
“mmmm
nat, sebenarnya sebelum kamu mengalami mimpi buruk yang kamu ceritakan dan
sosok yang kamu temui di kantor sekre…. Aku sudah mengalaminya setelah kita
pulang kemping“. Kami tercengang dengan ceritanya.
“lalu mmm aku berfikir untuk membersihkan
apapun yang aku gunakan ketika camp karna aku membaca sebuah artikel bisa saja
ada makhluk dari dunia lain yang ikut dengan kita ketika kita tinggal di tempat
yang tidak berpenghuni. tadinya aku ingin membuang cincin itu juga tapi aku
tidak tega karna mustahil kalau ini penyebabnya pikirku, makanya kenapa aku
kasih cincinnya ke kamu, nat. “. Tiara
menjelaskan panjang lebar.
Kami yang mendengarkan tertegun
kaget dan bingung harus berbuat apa. Ketika itu aku segera melepaskan cincin
itu lalu Aku memutuskan membuang cincin itu dan agar orang lain tidak ada yang
mengambilnya dan bernasib sama aku membalutnya dengan tisu dan membungkus
dengan pelastik. Ketika itu juga aku membuangnya jauh – jauh.
Aku dan empat temanku yang sedang
kumpul dikostan liya terbaring masih tidak percaya dengan semua kejadian itu.
Kami semua tertegun diam dan sesekali satu persatu dari kita berkataa “kok bisa
ya”. Lalu “aneh “. Tapi syukurlah akhirnya semua berlalu dan semoga setelah ini
aku bisa tidur dengan nyenyak dan dari sini kami belajar untuk tidak mengambil
apapun yang bukan hak kami meskipun itu barang temuan.
Sampai aku memutuskan bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar
mandi untuk mencuci muka. Tiba – tiba punggungku sakit dan pegal, terasa berat
sekali. Ah, mungkin karna aku kurang tidur. Lalu aku keluar kamar dan bersiap
untuk pulang kekostanku anehnya teman – temanku malah menutup badan mereka
dengan selimut.
“heyy..
ayo dong bangun, kalian gak akan pada balik ? “. Tanyaku mengingatkan mereka.
“aku
sakit badan nih, mungkin kurang tidur kali yah. “. Lanjutku berbicara. Mereka
tetap tidak merespon aku kira mereka kembali tidur. Hmm ya sudahlah. HPku
berbunyi tanda ada pesan masuk. Ketika aku membuka HPku “hah tiara “.
“ra,
apaan sih pake chat segala deket juga”. Kataku sambil membuka pesannya. Sontak
aku terkejut dengan isi chat yang dia kirim.
“nat ada nenek – nenek serem menengkel di
punggung kamu “ seketika nafasku
terhenti dan aku merasakan ada hembusan nafas dari belakang pundakku. dan
ketika aku melihat kea rah cermin di depanku “ AAAAAAAAAAAAAAAAAA”.
_
selesai _