Saturday, June 27, 2020

Could it be love?

                         Could It Be Love? 
Mutia Nur imani

Could it be love? Semuanya terasa tiba-tiba. Mungkin berawal dari  pertemuan, canda, saling ngandalkan, dan saling berbagi cerita. Tiba-tiba aku merindu, Menjadi salah tingkah saat bertemu. Tidak bisa menahan lagi senyum itu. Bagaimana harus aku katakan? Aku terlalu naif jika aku bilang ini bukan cinta. Hanya saja, perasaan ini harus aku kubur sedalam mungkin. 

Semua berawal dari aku dan kamu saling membutuhkan dan beradu cerita. Awal mulanya, aku masih bisa sedikit mengikis bibit-bibit perasaan yang tumbuh. Sampai aku sangat tidak ingat jika aku menyimpan rasa. Hingga suatu waktu, Tuhan takdirkan kita bertemu dengan alur yang tak terduga. Siapa tau akan tumbuh kembali benih yang sudah lama mati. 

Bukan aku tidak menerima kenyataan. Namun, cinta ini bagaikan harapan melihat rembulan di siang hari. Tidak mungkin! 
Kita adalah ketidak mungkinan. Jadi, mari kita kubur kembali rasa ini hingga benar-benar mati...  

Jauh dalam hati terdalam, aku hanya berharap semoga Tuhan datangkan cinta di waktu yang tepat dan orang yang tepat. 


         - lovestory-


Wednesday, April 29, 2020

Secercah Cahaya




SECERCAH CAHAYA
oleh: Mutia Nur Imani

PART 1
Terlukis Senja
“senja itu tidak kekal, ia akan pergi namun akan kembali. Haruskah ku tunggu?”

            Angin berhembus perlahan masuk ke dalam relung jiwa. Membawa bersama harapan yang tak pernah nyata. Perlahan mulai menghilang, namun masih sangat tersa. Hembusan nafas setiap detiknya bak kesejukan yang tak ingin lepas. Sedikit demi sedikit ku tarik kembali anganku yang terbang jauh ke angkasa.
“jangan terlalu menikmati, sisakan sedikit harapanmu”. Sebuah kalimat lembut yang menyadarkan lamunan panjangku.
Kedua mata ini memaksa untuk membuka, dan ku tolehkan kearah suara itu berasal.
“Laila”. Ucapnya sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah.
“Ini untuk mu’. Tanpa kata, ku ambil bunga itu dari tangannya.
 “mmmm boleh aku titip keranjang dan bunga ini? besok akan ku ambil kembali dari mu”.
Belum sempat ku izinkan, gadis dengan sehelai kain yang menutupi wajah cantiknya itu menyodorkan keranjang bunganya kepadaku lalu pergi.
Seketika, senja perlahan mulai menghilang dan taman menjadi gelap. Kesunyian membuatku semakin bertanya-tanya “siapakah gadis itu?”

Secercah Cahaya
PART 2
TO BE CONTINUE......